Anak-Anak Perlu Perhatian Khusus dalam Situasi Pascagempa

Congklak ala penyintas (Irman Ariadi/JALIN Lombok)

Tidak jauh dari lapangan Ancak, Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, terlihat bekas-bekas galian tanah yang berukuran sangat kecil. Bekas tersebut membentuk cekungan-cekungan kecil dan dangkal. Jumlahnya ada duabelas dan berjejeran. Menurut Laporan Irman Ariadi, anggota Tikus Darat CRI pada Senin (13/8/2018), cekungan tersebut adalah congklak buatan yang dimainkan oleh anak-anak penyintas gempa. Congklak ini dibuat sangat sederhana dengan bahan seadanya. Di tengah situasi darurat pascagempa, anak-anak Ancak Timur ini tetap membuat ruang bermain mereka sendiri.

Gempa Lombok pada Minggu (5/8/2018) menyisakan trauma yang mendalam bagi korban. Dalam hal ini, anak-anak menjadi pihak yang paling rentan akibat dampak gempa. Selain kehilangan tempat tinggal, anak-anak juga kehilangan ruang belajar dan bermain. Situasi pascagempa tentu sangat tidak ramah bagi anak-anak. Oleh karena itu trauma healing menjagi hal yang juga penting ketika menangani dampak gempa. Sebab, anak-anak membutuhkan perhatian khusus dalam situasi pascagempa.

Bebebrapa waktu lalu, warga secara mandiri telah melakukan trauma healing pada anak-anak. Contohnya adalah trauma healing yang dilakukan oleh Media Komunitas Speaker Kampung pada Sabtu (4/8/2018) dengan permainan interaktif. Selain Media Komunitas, para relawan juga melakukan trauma healing dengan membuat hiburan badut di Lapangan Ancak pada Minggu (12/8/2018).

Relawan tengah mempersiapkan diri menjadi badut untuk menghibur korban terdampak gempa. (Irman Ariadi/JALIN Lombok)

Lamia PD

Staf Komunikasi CRI

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.