Warga Lombok Timur Bantu Penyintas Gempa Lombok Utara

Pemuda Dasan Tinggi, Lombok Timur salurkan bantuan untuk penyintas gempa Desa Genggelang, Lombok Utara. (Foto: Fanpage Media Komunitas Speaker Kampung)

Speaker Kampung – Warga Dusun Dasan Tinggi, Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, bantu penyintas gempa di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara (15/8/2018). Dana yang dikumpulkan pemuda Dasan Tinggi dari warga Dasan Tinggi mencapai Rp 1.135.000.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli bahan pangan seperti mi instan, air minum, makanan ringan serta 200 nasi bungkus. Bantuan didistribusikan langsung ke posko penyintas gempa yang berada di Dusun Gangga, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga.

Bantuan juga datang dari donatur asal Qatar bernama Muhammad Jamali sebesar Rp 2.000.000. Jamali merupakan majikan seorang TKW asal Sambelia, Rumenah.

Ketika pewarta warga dari media komunitas speakerkampung.net bertandang ke desa yang letaknya tidak jauh dari ibukota Kabupaten Lombok Utara, penyintas mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah.

“Hingga detik ini tidak pernah ada bantuan dari pemerintah selain dari sahabat dan keluarga yang berada di luar kota,” terang Hariyadi, salah satu warga Desa Genggelang.

“Jangankan bantuan sembako, terpal yang diharapkan untuk membuat tenda sekali pun tidak ada selain swadaya warga sendiri,” timpal warga lainnya, Suhaedi.

Menurut Suhaedi (40), untuk menyambung hidup di tenda pengungsian, dia bersama warga lainnya mengumpulkan beras yang bisa diambil dari balik timbunan puing-puing rumah mereka.

Beras itu kemudian dikumpulkan dan dimasak di dapur umum yang mereka bangun secara swadaya. “Kami kumpulkan beras yang bisa kami ambil dari dalam reruntuhan kemudian kami masak dan makan bersama,” ungkapnya.

Menurut keterangan Ketua RT Dusun Gangga, Setiabudi, sumbangan yang mereka terima selama ini datangnya dari kolega dan juga keluarga, yang salah satunya dari warga Dasan Tinggi.

“Tidak pernah ada dari pemerintah,” tegasnya.

Di Dusun Gangga, sedikitnya lima orang dinyatakan meninggal dunia akibat gempa pada 5 Agustus lalu. Di antaranya, Martono (35 tahun) bersama anaknya Safa Marwah (7 tahun), Inaq Mutiara (70 tahun) dan Tabir (60 tahun). Sementara satu korban lagi bernama Cani (50) meninggal setelah berada di pengungsian.

Sedang di Dusun Benjor, Desa Genggelang, menurut pemuda setempat, sebanyak tiga orang meninggal dunia.

Hingga berita ini dimuat, pemadaman listrik masih berlaku di seluruh wilayah Lombok Utara. Masyarakat terpaksa harus menggunakan genset untuk penerangan.

Saat ini para penyintas yang tersebar di beberapa titik pengungsian di Desa Genggelang ini membutuhkan tenda, selimut serta obat-obatan. Kebutuhan tersebut cukup mendesak mengingat cuaca kurang bersahabat. (Fikri MS/Speaker Kampung)

Ferdhi FP

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.