Selain Lombok, Gempa Juga Merusak Sebagian Sumbawa

Warga penyintas gempa di Kabupaten Sumbawa mengungsi dengan tenda seadanya. (Foto: Istimewa)

Gempa bermagnitudo 7 pada 19 Agustus lalu tidak hanya merusak sebagian besar bangunan di Lombok Utara dan Lombok Timur, melainkan juga sebagian Pulau Sumbawa, NTB.

Kerusakan bangunan rumah terjadi di beberapa wilayah di Pulau Sumbawa, seperti Kecamatan Pototano, Kecamatan Alas Barat—Desa Lanbuan Mapin, Gontar, Gelampar, Usar Mapin, Mapin Kebak, Mapin Rea, Hijrah, Kecamatan Buer—Desa Tarusa, Desa Kaung.

Menurut Zaitun, warga Desa Labuhan Mapin, Kecamatan Alas barat, Kabupaten Sumbawa, banyak rumah yang mengalami kerusakan berat. Sementara itu, rumah-rumah yang mengalami retak sudah tidak layak untuk huni. Adapun sebagian rumah yang masih bertahan merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Kendati demikian, warga tetap mengungsi dengan menggunakan tenda terpal.

Hal serupa juga menimpa warga Pulau Kaung, Kecamatan Buer. Setidaknya ada 7 rumah yang hancur. Anti (23 tahun), warga Pulau Kaung, bersama keluarganya mengungsi di depan kantor Polsek Buer.

Saat ini warga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan air bersih untuk konsumsi. Sementara untuk mandi, warga mengandalkan air sumur.

Selain menyebabkan kerusakan rumah, gempa juga telah menyebabkan rusaknya fasilitas kesehatan. Puskesmas Pototano mengalami kerusakan parah. Malam saat kejadian, pasien-pasien dirawat di lapangan depan puskesmas dengan fasilitas seadanya dan tenaga medis yang terbatas.

Sedangkan Puskesmas Alas Barat mengalami retak-retak. Namun, pasien tetap ditempatkan di luar puskesmas untuk mengantisipasi gempa susulan. Di Puskesmas Alas Barat, setidaknya ada 3 orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan puluhan orang luka berat.

Beberapa korban yang mengalami luka berat dirujuk ke Rumah Sakit Sumbawa Besar. Abib (13 tahun), warga Labuhan Mapin, mengalami luka parah pada kaki dan harus dipasang pen. Biaya operasi sebesar Rp 7 juta ditanggung oleh pemerintah, begitu pula korban lain yang menjalani operasi.

Pascagempa, warga secara mandiri membangun tenda darurat dengan menggunakan terpal. Warga mendirikan tenda di area terbuka. Kabar adanya gempa susulan yang lebih besar dan tsunami membuat warga tetap waspada dan menghindari wilayah pantai, sehingga mencari tempat yang lebih tinggi.

Warga di sana juga kesulitan untuk mendapatkan air bersih karena PDAM mati. Mereka harus membeli air untuk mendapatkan air bersih. Sampai hari ini, listrik PLN tidak kunjung menyala, seperti di Labuan Mapin dan Desa Tarusa. Belum banyak bantuan untuk warga-warga yang mengungsi. Menurut Zaitun, keluarganya menerima bantuan beras 4 kg per kepala keluarga (KK) dari kepala desa setempat. (Devy DC/FFP)

 

 

 

Ferdhi FP

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.